• Kami kembali, dengan kegiatan-kegiatan baru. Tunggu kabarnya segera. We are back. Stay tuned!

0

Pemutaran Film: BETINA (Kamis, 17 Sept’09 pk. 20.00)

“Terima kasih buat Kinaryosih, yang sudah muncul tiba-tiba mengejutkan kita semua yang hadir. Juga, terima kasih buat Jerinx SID dan Rude Boy Dodix yang ngasi kado paling indah malam itu”.

Absurditas Dunia Betina

Jum’at, 25 Agustus 2006 | 14:09 WIB

betina-2006TEMPO InteraktifJakarta: Perempuan semampai itu mendekat ke arah kandang, ke arah Dewa. Perlahan, dibukanya satu per satu kancing blusnya hingga akhirnya ia terbebas dari kungkungan. Setelah penutup dadanya tanggal, berahinya pun meledak tak terkendali. Ia lupa pada siapa atau pada apa tepatnya berahi itu disalurkan. Dewa bukanlah manusia berjenis kelamin, yang dengan gagah perkasa siap melayani libidonya. Dewa adalah seekor sapi jantan berwarna hitam pekat, satu-satunya teman yang dimiliki Betina (Kinaryosih).

Scene yang sensual itu muncul dalam film perdana Lola Amaria. Film itu, Betina, adalah film yang bercerita mengenai kehidupan orang-orang “sakit”. Betina adalah perempuan yang tumbuh dan besar di sebuah desa antah berantah. Sejak kecil, ia harus kehilangan kasih sayang ayahnya (Zairin Zain), seorang anggota militer. Gara-gara menulis buku bertajuk NKRI Bukan Tuhan, sang ayah diculik. Hingga Betina menjadi perempuan dewasa, sang ayah tak pernah diketahui rimbanya.

Tak hanya ia yang terguncang oleh kepergian sang ayah yang begitu tiba-tiba. Ibu Betina (Tutie Kirana) juga begitu terpukul hingga nalarnya ikut terguncang. Setelah kehilangan kasih sayang seorang ayah, Betina sekaligus kehilangan ibunya. Sehari-hari, pekerjaan ibu Betina hanyalah mencuci dan menyetrika seragam militer suaminya. Tak dihiraukannya sang anak yang mulai tumbuh menjadi gadis ranum.

Dunia “sakit” Betina semakin diperparah dengan perlakuan tak senonoh yang ia terima dari Juragan Ternak Sapi (Otig Pakis) dan kerabat Betina sendiri, Luta (Subur Sukirman). Namun, Betina tak pernah berkata-kata. Seluruh kesedihan dan kemarahan ia pendam begitu saja. Hingga suatu saat, panah cinta merasuk ke dalam hatinya yang telah lama beku. Sayang, sang pujaan hati adalah Penghulu Kematian (Agatsya Kandou). Artinya, hanya kematian demi kematianlah yang dapat mempertemukan Betina dengan pria itu. Bila perlu, kematian ibunya sendiri.

Tak banyak berbeda dengan dua film yang sebelumnya diproduseri Lola, Beth dan Novel tanpa Huruf R, film yang diproduksi sejak 2004 ini berusaha membawa penonton ke “dunia berbeda”. Hampir tak ada dialog dalam film berdurasi 70 menit ini. Sekiranya ada, hanyalah dialog-dialog tak penting yang tak akan membawa penonton ke mana pun.

Pengaruh sang mentor, Arya Kusumadewa, seperti diakui Lola, muncul dalam film ini. Kendati begitu, Lola berkilah, “Film ini masih ada romantisnya, sedangkan karya Arya sama sekali tidak.” Aroma surealisme pekat terasa meski Lola mengklaim film ini realis. Banyak hal dalam film ini yang tidak sejalan dengan realitas dunia sehari-hari kita, apalagi masih ditambah minimnya dialog. Bahkan, tanpa membaca sinopsis, kemungkinan besar penonton akan mengalami kesulitan memahami Betina dan pergolakan batinnya.

Setting waktu dan tempat sedari awal menjadi sebuah pertanyaan besar. Bila menyaksikan visualisasi Betina, penonton seperti dibawa mundur dengan mesin waktu. Lokasinya pun tampak antah berantah, yang diperkuat dengan simbol-simbol, seperti kuburan segi tiga yang sulit ditemukan di dunia nyata. Tapi lagu Bang Thoyibdan Only You, yang diputar radio, menjadikan film ini rancu, kapan dan di bagian negeri Indonesia manakah Betina menghirup napasnya.

Kostum juga menjadi masalah sendiri. Pakaian-pakaian Betina, meski lusuh, tampak sensual untuk ukuran seorang gadis yang tinggal di desa. Sayang sekali banyak detail yang tak tergarap rapi untuk sebuah film yang memakan masa produksi hingga dua tahun ini. Bagian terbaik dari sekian banyak kelemahan film ini di antaranya terletak pada akting Kinaryosih. Ia dengan cemerlang mampu menerjemahkan absurditas dunia Betina kepada penonton.

SITA PLANASARI A

Leave a Reply





Posted in events, movie screening | Tagged: | No Comments