• Kami kembali, dengan kegiatan-kegiatan baru. Tunggu kabarnya segera. We are back. Stay tuned!

1

Making Scenes: Reggae, Punk, and Death Metal in 1990s Bali

AVAILABLE FOR SALE. E-MAIL US HOW TO GET THE BOOK & EMMA BAULCH’S SIGNATURE.

emma1

ISBN: 0822341158
DUKE UNIV PRESS
2007 – Paperback – 226 Seiten

Reggae, Punk, and Death Metal in 1990s Bali.

248 pages (December 2007)
12 illustrations

In 1996, Emma Baulch went to live in Bali to do research on youth culture. Her chats with young people led her to an enormously popular regular outdoor show dominated by local reggae, punk, and death metal bands. In this rich ethnography, she takes readers inside each scene: hanging out in the death metal scene among unemployed university graduates clad in black T-shirts and ragged jeans; in the punk scene among young men sporting mohawks, leather jackets, and hefty jackboots; and among the remnants of the local reggae scene in Kuta Beach, the island’s most renowned tourist area. Baulch tracks how each music scene arrived and grew in Bali, looking at such influences as the global extreme metal underground, MTV Asia, and the internationalization of Indonesia’s music industry.

Making Scenes is an exploration of the subtle politics of identity that took place within and among these scenes throughout the course of the 1990s. Participants in the different scenes often explained their interest in death metal, punk, or reggae in relation to broader ideas about what it meant to be Balinese, which reflected views about Bali’s tourism industry and the cultural dominance of Jakarta, Indonesia’s capital and largest city. Through dance, dress, claims to public spaces, and onstage performances, participants and enthusiasts reworked “Balinese-ness” by synthesizing global media, ideas of national belonging, and local identity politics. Making Scenes chronicles the creation of subcultures at a historical moment when media globalization and the gradual demise of the authoritarian Suharto regime coincided with revitalized, essentialist formulations of the Balinese self.

Making Scenes is as good a balance of theoretical innovation, ethnographic observation, and musical ‘scene’ analysis as I have seen in a long time. It is also the best account I have seen of the international circulation of 1990s alternative U.S. rock outside the United States.” —Will Straw, author of Cyanide and Sin: Visualizing Crime in 50s America
“Timely and engaging, Making Scenes is a wonderful and needed contribution to scholarship on Bali, to debates over the relationship between Birmingham School cultural studies and the work of area studies, and to the transnational study of popular music.” — Laurie J. Sears, editor of Knowing Southeast Asian Subjects

Emma Baulch is a Senior Research Associate in the Creative Industries Faculty at the Queensland University of Technology in Brisbane, Australia.

For more information, please visit the publisher’s webpage.

——————————————————————————————-

Ulasan buku dari Kompas 5 Juli 2009 oleh Degung Santikarma

Meng-etnografi-kan Bali Lewat Superman Is Dead

Minggu, 5 Juli 2009 | 03:26 WIB

DEGUNG SANTIKARMA

Gambaran antropologis ”tradisional” tentang Bali berawal dari kehidupan masyarakat desa, dengan ritme kehidupan petani, sawah, penggembala, subak, dan ritus keagamaan. Bali dilukiskan sebagai masyarakat yang homogen, asli, unik, alamiah, dan tak terjamah oleh pengaruh luar.

Karena kebijakan ”politik etis” Belanda, Bali dikarantina sebagai ”kawasan khusus” yang perlu dilindungi dari pengaruh luar, umpamanya pengaruh dari agama besar dunia, Islam dan Kristen. Menurut mereka, Bali dianggap satu-satunya Pulau Hindu yang masih eksis, tak berubah, sebagai bukti peninggalan peradaban besar Nusantara setelah Jawa mengalami arus gencar islamisasi. Lalu rezim pascakolonial menjual Bali sebagai daerah tujuan wisata, citra ketakberubahan Bali dilestarikan dan dilanjutkan sampai sekarang dengan bungkusan baru disebut ”Ajeg Bali”. Genealogi ”Ajeg Bali” menunjukkan suatu ”bukti diri” bagaimana disiplin antropologi, bikinan kaum penjajah tanpa diperiksa, diteruskan begitu saja oleh rezim pascakolonial.

Pergeseran pendekatan

Antropolog mulai melakukan otokritik terhadap pendekatan yang terbuai akan eksotisme dan orientalisme dari para pendahulu mereka. Terjadi perubahan orientasi antropologi di negeri Barat, yang berdampak juga kepada kajian antropologi tentang Bali. Wilayah penelitian pun berbeda, yang dulunya berorientasi ”pusat” bergeser ke wilayah ”pinggir”, seperti masalah kemiskinan, ketidakadilan dan persoalan HAM, jender, kajian kaum gay, dan persoalan diskriminasi rasial. Mereka mulai tertarik melihat pengaruh globalisasi, kapitalisme dan ”state” pada kehidupan sehari-hari dan bagaimana perlawanan, siasat dan taktik orang-orang biasa dalam menyikapi itu.

Emma Baulch, antropolog dari Australia, tidak mudah terkecoh dengan usaha-usaha untuk mengeksotiskan kebudayaaan Bali. Dalam karyanya, Making Scenes; Reggae, Punk, and Death Metal in 1990s Bali, dia mulai menelusuri kegaduhan, kesemrawutan, hiruk-pikuk kemacetan Gang Poppies di Kuta. Pandangan Emma di tengah lalu lalang para surfer, wisatawan domestik, dan pedagang acung tersedot pada sebuah bar kecil yang menjadi tempat nongkrong pemuda lokal dengan rambut bergaya mohawk atau bercat warna-warni, beraksesori rantai, jaket penuh paku, dan sepatu bot. Bar ini bernama Twice Bar yang menjadi markas Superman is Dead dan tempat ”deep hangout” sang antropolog.

Teritori ini bukan sekadar tempat hedonis, tetapi bagi si peneliti juga sebuah site of cultural production yang selama ini dipandang sebelah mata oleh pengamat karena dianggap bukan bagian dari budaya ”adiluhung”. Di sini ada kreativitas, solidaritas, keakraban, interaksi, juga suasana informal seperti umumnya sebuah komunitas tradisional di Bali yang disebut sekeha. Bedanya, mereka sedang mencari bentuk lain dari ekspresi-ekspresi budaya yang telah ada, bukan terjebak pada wacana pelestarian seperti kesibukan aktivitas sekeha pertunjukan tradisional. Yang dipentaskan bukan pertunjukan mainstream barong dan rangda, melainkan musik impor yang diperkenalkan lewat print-capitalism, kaset, video, TV, dan majalah.

Bentuk perlawanan

Lewat buku ini Emma melihat, di balik ”ketertundukan” dan ”kepolosan” yang telah melekat pada diri orang Bali, ternyata bukan suatu yang mulus berjalan sepi-sepi saja tanpa ada gugatan. Ketika penguasa Orde Baru mulai keropos, protes tak lagi dilakukan secara kasak-kusuk dan sembunyi-sembunyi, tapi justru pada panggung terbuka yang disebut ”geger underground” yang waktu itu dianggap sebagai ranah yang ambigu antara butuh dan tak butuh izin. Ini menjadi ”anarkis yang dipestakan”, antara penonton dan yang ditonton menjadi satu kesatuan penggugat ”identitas arus utama” yang mereka anggap telah terkooptasi oleh pasar dan kuasa. Rezim kebapakan ini tak berdaya menjinakkan mereka yang ada pada wilayah ”liminalitas”, mereka adalah para ”remaja”, ”pemuda”, ”anak gaul”, ”anak borju”, dan ”cewek matre”. Untuk meng-etnografi-kan kerumitan, mereka perlu observasi dan partisipasi karena dunia kontemporer ini pada waktu itu belum dijamah oleh para baliolog.

Untuk melihat bentuk-bentuk perlawanan terhadap kekuasaan, terutama kuasa Orde Baru yang licik, diperlukan kecerdasan tersendiri. Seperti biasa, keroposnya kekuasaan rezim otoriter karena sang kuasa sendirilah yang sering ”tak sadar” memberikan celah-celah perlawanan. Rakyat di bawah tirani sekalipun kelihatan ”tunduk dan patuh”, namun mereka punya taktik dan siasat tersendiri karena mereka tahu kekuasaan yang berbedil kalau ditentang akan berakibat fatal. Cara terbaik adalah dengan pura- pura menerima kemudian mengunyahnya ketika sang kuasa lengah lalu dimuntahkan. Kalau di Bali disebut dengan istilahmerta matemahing wisia, perlawanan mengunyah tanpa menelan.

Para punker dan head banger di Bali mengonsumsi produk kapitalisme global yang diberikan lewat tayangan MTV, tapi pada saat yang sama menolak bukan dengan demo atau mogok makan, tapi melalui ”carnival kegaduhan” yang disebut ”total uyut”. Mereka memarodikan, mengejek, menjungkirbalikkan praktik- praktik rumusan manusia Bali yang ”sapta pesonik” karena telah menjadi ”wacana identitas yang dominan”—retorika ”Ajeg Bali” pada waktu itu belum sepopuler sekarang. Karya Emma memberi pelajaran bahwa pada era tahun ’90-an kaum muda penggemar pop culture di Indonesia tidak bisa lagi didepolitisasi menjadi ”massa mengambang”, tapi mereka sebuah ”tanda mengambang” yang harus disimak dengan saksama.

Yang menggelitik dari dunia underground ini, mereka mengkritik identitas yang dominan, yang dianggap tidak lagi otentik, namun mereka juga terjebak pada wacana yang sama, yaitu otentisitas diri mereka sendiri. Bergumul dengan persoalan tentang siapa yang paling punk dan siapa yang paling metal dengan barometer mayor atau label indie dan status fans mereka. Sudah menjadi cerita umum di kalangan mereka bahwa ”otentisitas” ke- punker-an atau ke-headbanger- an mereka digugat ketika mereka masuk label mayor, apalagi digemari oleh ”cewek matre”. Di sini otentisitas mereka dipertaruhkan, sudah dianggap terkontaminasi menjadi ”musik gaul” yang sell out. Ironisnya, sejarah reggae, yang identik dengan perlawanan terhadap kulit putih, di Bali pengagum rastavari ini tak diusik oleh rezim. Justru dipakai menarik pelancong kulit putih karena sekaligus memperkuat image ”tropikalitas” Bali.

Degung Santikarma Antropolog dari Bali

Posted in book club | Tagged: , , | 1 Comment